Sunday, 16 January 2011 07:44
Penganan khas Melayu menggodanya meninggalkan pekerjaan sebagai supervisor operasional di bank. Pengorbanannya itu tidak sia-sia karena nama kue khas Melayu itu terangkat dan banyak dipilih jadi oleh-oleh khas dari Batam.
Outlet Nayadam terletak di ruko Puri Legenda Blok D1 No.03 Batam Centre. Di outlet Nayadam yang menjual oleh-oleh khas Melayu Batam ini, pelanggan berdatangan sejak pagi hingga siang, dua pekan lalu. Kepada pengunjung, karyawan Nayadam langsung mempersilakan untuk mencicipi kue bingka bakar dan kue bilis. Pengunjung boleh mencicipi lebih dari satu potong karena kue-kue itu memang disediakan sebagai tester sebelum membeli.
Usai mencicipi, seorang pelanggan kemudian melihat-lihat jenis kue yang di pajang di rak bersusun. Pengunjung yang tidak mengetahui ada kue yang bisa dicicipi sebelum membeli, langsung memilih kue yang diinginkan. Pelanggan yang datang, rata-rata memilih kue bingka bakar. Ada beberapa macam rasa kue bingka bakar yang bisa dipilih yaitu rasa pandan, pandan wijen, pandan keju, dan coklat.
”Kue bingka dan kue bilis yang jadi andalan kami di sini,’’ucap Pemilik Nayadam, R Wisnu Wardhana di outlet Nayadam di Puri Legenda.
Selain empat rasa kue bingka itu, pelanggan bisa memesan rasa yang lain, misalnya rasa durian. Nayadam menerima pesanan itu sebagai bentuk pelayanan yang prima kepada pelangganya. Tapi harus memesannya beberapa hari sebelum diambil. Wali Kota Ahmad Dahlan pernah memesan rasa durian dan ibu Gubernur Kepri, Aisyah Sani pernah memesan rasa ubi saat kenduri seni melayu.
Pilihan Wisnu mengangkat kue khas Melayu ini ternyata tidak salah karena peminat dan pelanggannya terus meningkat tiap hari. Setiap hari produksi Nayadam mencapai 200 buah untuk kue bingka bakar dan 75 kotak kue bilis.
Untuk kek pisang setiap hari memproduksi 100 buah hingga 150 buah. setiap akhir pekan, produksi dinaikan 50-100 persen dari hari biasa.
‘’Alhamdulillah omzetnya sudah mencapai Rp200 juta per bulan,’’ ungkap ayah dua anak yang biasa disapa Wisnu ini.
Padahal awalnya, usaha Wisnu ini dimulai dari rumah. Usaha ini adalah industri rumah tangga atau home industri yang sebenarnya sudah dijalankan istri Wisnu setiap menjelang Lebaran tiba. Biasanya hanya kue bilis saja. Bermula dari situ, pada awal 2008, Wisnu dan istri terpikir makanan khas Melayu Batam yang bisa dijadikan oleh-oleh Khas Melayu dari kota Batam.
Keinginan ini hanya terlintas begitu saja karena Wisnu masih bekerja di salah satu bank swasta. Istrinya juga masih bekerja. Namun keinginan mengangkat kue khas Melayu terus mengusik pikirannya. Akhirnya ia memutuskan keluar dari bank. Ia berhenti sebagai karyawan bank di pengujung tahun 2008, setelah bekerja selama 4 tahundan 3 bulan. Jabatannya saat itu adalah Supervisor Operasional Kantor Cabang pembantu Penuin.
Setelah berhenti bekerja di bank, pada awal tahun 2009 ia bersama istri mulai mencoba mengembangkan usaha rumahan ini. Sejak itulah ia dan istri mencari kue-kue asli dari Melayu Batam yang dapat dijadikan oleh-oleh Khas Batam bahkan Kepulauan Riau.
‘’Kebetulan istri saya asli orang Belakangpadang, jadi sangat tahu kue asli khas Melayu Batam. Ada kue bilis dan kue bingka,’’ katanya.
Wisnu bersama istri harus membuat sendiri kue ini dan memodifikasinya sedikit agar lebih awet sebelum menjualnya. Berkali-kali ia harus mencoba. Kala menawarkannya di beberapa toko, kue buatannya itu juga kerap ditolak.
‘’Alasannya tadi ya karena takut gak tahan lama. Tapi setelah dijelaskan akhirnya ada yang menerima,’’ ujar Wisnu.
Awal Januari 2009, ia mengangkat kue Bingka bakar dan kue bilis sebagai brand usahanya. Kemudian diberi tambahan nama Naya@Dam yang diambil dari nama kedua anaknya, Naya dan Adam. Dari rumah, Wisnu membuka outlet kecil di Batam Centre. Tempat ternyata juga berpengaruh. Secara psikilogis, Wisnu kurang sreg jika pelanggannya datang ke outlet yang kurang nyaman.
Pernah suatu waktu, pelanggannya ingin memesan kue. Tapi setelah datang dan melihat outletnya, pelanggan itu tidak jadi memesan kue. Setelah itu, beberapa kali Wisnu meminta kepada pelanggannya tidak datang ke outlet dan mengatakan akan mengantarkan ke tempat pelanggan saja.
”Tapi sekarang, malah ingin pelanggan selalu datang ke sini (outlet Nayadam sekarang),’’ kata Wisnu sembari tertawa.
Outlet Nayadam di ruko Puri Legenda itu sudah nyaman bagi pelanggan. Di tempat inilah, wisatawan lokal maupun mancanegara bisa mendapatkan semua oleh-oleh khas Melayu Batam atau pun makanan dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Di outlet ini pengunjung juga bisa mendapatkan souvenir berupa kaos, gantungan kunci, pernak-pernik kerajinan dari gonggong.
‘’Jadi orang yang ke sini bisa mendapatkan semuanya,’’ ucap Wisnu.
Selain, usaha kue-kue khas Melayu, Wisnu juga memberi pilihan bagi pelanggannya untuk menikmati oleh-oleh lainnya. Misalnya kek pisang. Kek Pisang, ini bukan makanan khas Melayu tapi cukup dikenal di Batam. Kue ini kue modern yang coba diangkat sebagai makanan oleh-oleh, sebagai pelengkap variasi kue yang diproduksi Nayadam.
Untuk kek pisang, Nayadam menyediakan sepuluh macam rasa, yaitu rasa original, original pandan, strawberry, bluebery, almond, keju, sucade, blackforest, snow white, dan coconut chocolate.
Dibalik usahanya mengangkat kue khas Melayu yang mulai dilupakan, Wisnu punya misi mempertahankan, menjaga dan melestarikan budaya dan tradisi makanan khas Melayu. Tujuannya supaya makanan khas ini lebih dominan dan diminati oleh masyarakat dibandingkan makanan luar yang sudah banyak menyerbu Batam. Disamping itu juga membuka lapangan kerja baru serta memajukan usaha kecil lain yang mendukung usahanya. Dulunya, usaha ini hanya ditangani berdua dengan istri. Kini sudah puluhan karyawan di beberapa outlet.
‘’Karyawan Nayadam sudah 20 orang. Ada di beberapa outlet. Rencana kami mau buka outlet lagi di Jodoh,’’jelasnya.
Kian bertebarnya outlet Nayadam membuatnya makin dikenal. Tidak hanya masyarakat Batam, tapi juga wisatawan. Tak salah, Nayadam salah satu pendukung pada visit Batam 2010.’’Banyak travel-travel yang bawa turis ke Nayadam,’’katanya. (ahmadi)
sumber : Batampos.co.id
