Tinggalkan Bank, Geluti Usaha Kue Khas Melayu

Friday, 15 January 2010 08:14

Rosnendya Wisnu, Pemilik Nay@Dam, Pusat Oleh-oleh
Tinggalkan Bank, Geluti Usaha Kue Khas Melayu

wisnu1Ke Pulau Menatang di waktu malam. Berangan disantap oleh cek Lubis. Kalau tuan dan puan datang ke Batam. Jangan lupa membawa kue bingka dan kue bilis.

Beberapa sampiran dan isi pantun di atas adalah bukti kecintaan dan kesungguhan Rosnendya Wisnu memproduksi makanan khas Melayu. Syairnya menarik, cantik dan mudah dimengerti. Tapi, untuk membangun usaha kue ini, tidak mudah bagi Wisnu. Dia mengalami berbagai kendala.
Sebelumnya, Wisnu adalah supervisor operasional sebuah bank swasta di Batam (2004-2008). Namun, keinginan bebas dan lebih mandiri, membuat Wisnu rela meninggalkan jabatan tersebut (2008). Tak lama, dia menggeluti usaha pembuatan kue khas Melayu. Tentu tidak mudah. Dia butuh dana, oven, bahan kue, tempat usaha, dan juga tenaga.

Ini adalah kendala awal usaha makanan yang mendukung Visit Batam 2010 ini. Untung istrinya dan keluarganya mau membantu. Ditambah lagi, kue bingka bakar dan kue ikan bilis (ikan teri) tak asing lagi di lingkungan keluarga istrinya.

Istrinya, Niwen Khairiah, yang berasal dari Belakangpadang (Melayu), kerap membuat kue-kue tersebut di hari raya Idul Fitri, Idul Adha, atau pada kegiatan dan hari bernuansa Islam lainnya.

”Awalnya cuma sedikit saja kue bingka bakar dan kue bilis tadi dibuat. Namun, respon  kawan-kawan dan masyarakat sekitar sangat baik. Maka, jumlah produksi pun mulai ditingkatkan. Kini diproduksi 30 sampai 50 kota per jenis makanan. Saya kini mempunyai total delapan karyawan,” sebut Wisnu di tempat usahanya (outlet) di Ruko Puri Lengenda BLok D1 Batam Centre.dalam2
Latar belakang pendidikan Sarjana Komputer di STIMIK AKI Semarang (1995-2000), memang tak nyambung dengan kegiatan yang digelutinya saat ini. Tapi, Wisnu pantang mundur.
Kendala memproduksi dan mempercantik hasil makanan terus dilakukan. Ilmu marketing dipelajari otodidak dan bertanya kepada orang lain.

Wawasannya tentang kue dan usaha bertambah. Hasilnya, produk dua jenis makanan tadi kini sudah dikemas dalam kemasan (kotak, red) yang cukup cantik. Rasa pun tidak diragukan.
Biasanya, ikan bilis keras kalau dimakan. Oleh Wisnu, ikan bilis tadi malah lembut, dan makin harum. Rasanya semakin gurih setelah dibungkus tepung yang dililit di sekujur tubuh bilis. Kue bilis ini bisa dimakan dengan nasi atau jadi cemilan.

”Harga kue bingka Rp20 ribu per kotak. Bingka ini tersedia dalam rasa pandan, keju, coklat, rasa buah-buahan (nangka dan durian, red). Sedangkan kue bilis Rp25 ribu per kotak. Harga makanan ini relatif murah. Makanan ini hanya ada di Batam dan sudah dinikmati/ dibeli Menteri Kesehatan Menkes Siti Fadillah Supari tahun 2008, dan para pejabat di Batam,” papar pria kelahiran 17 Agustus 1976 ini.

Tak puas dengan satu tempat usaha, anak kedua dari empat saudara ini, melebarkan sayapnya dengan membuka cabang usaha di tiga tempat lainnya, yaitu di Komplek Trikarsa Equalita Blok A No 30 Batam Centre, Kios Kaki 6 Mega Legenda, dan di B’Store Pacific Palace Hotel Jodoh.
Bapak dari Naya dan Adam ini mengaku, outlet perlu ditambah, karena tak semua orang tahu dan bisa menjangkau ruko Puri Legenda. Penambahan otlet tadi membuat produknya makin dikenal wisatawan nusantara dan mancanegara.

luar1Wisnu juga berharap, nanti usahanya ini bisa diresmikan oleh Wali Kota Batam Drs Ahmad Dahlan dan Wakil Wali Kota Batam Ria Saptarika.
Cukup? Belum. Wisnu berinovasi dengan membuat kek (cake, red) pisang, kek keju, kek blueberry, kek strawberry, kek blackforest, dan kek original. Harganya Rp35 ribu per kotak. Juga dijual pakek kek pisang berisi empat kotak Rp120 ribu.
Dalam berusaha ini, Wisnu tidak meninggalkan unsur sosial. Wisnu memberikan kesempatan kepada pengusaha UKM di Batam. Pengusaha UKM diberi kesempatan meletakkan makanan/ minuman, aneka kerajinan tangan di outletnya. Dengan sistem konsinyansi, Wisnu berharap, para pengusaha bisa ikut mendapatkan keuntungan di outlet Nay@Dam.
Di outlet Nay@Dam, bisa diperoleh aneka produk UKM, seperti tas dari barang bekas (limbah) tas kosmetika, keset dari limbah baju kaos, pensil berkepala gonggong. Kini sebut Wisnu, oleh orang Melayu di Batam, dia diminta membuat makanan khas Melayu dari daging gonggong. Usul ini masih dipikirkannya. Malah, Wisnu memberikan kesempatan kepada pelaku UKM di Batam untuk merancang bentuk dan membuat makanan dari gonggong. ”Kalau sudah dibuat, ini tentu satu prestasi. Nay@Dam siap memberikan kesempatan makanan gonggong tersebut diletakkan di outlet Nay@Dam,” tutup Wisnu.

Sumber : Batampos.co.id
Last Updated on Thursday, 21 January 2010 01:44